Land Tandjoeng Oost: Daerah kecil di timur sungai ciliwung dan manusia-manusia yang menggarapnya(Feature)
Tanah garapan penuh peluang, mungkin itu lah kata yang menggambarkan sebuah daerah di timur jakarta. Ya, itulah Land Tandjoeng Oost atau yang kita kenal dengan nama Pasar Rebo, sebuah daerah yang bagian selatan berbatasan lanngsung dengan Depok, dibagian barat dengan Jagakarsa, dibagian utara berbatasan dengan kramat jati dan dibagian timur berbatasan langsung dengan kecamatan ciracas.
Pasar Tandjong Oost didirikan pada tahun 1762. Itu dicatat di dalam buku Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie yang terbit tahun 1869. Disebutkan ‘De marktplaats te Tandjong Oost werd reeds den 2 Julij 1762 opgerigt’. Pada tahun 1762, pasar Tandjong Oost dapat dikatakan sebuah pasar yang baru. Pasar ini adalah pasar swasta, pasar yang didirikan oleh pemilik tanah partikelir (land) Tandjong Oost. Pasar ini dibuka setiap hari Woensdag dan kelak pasar ini disebut Pasar Rebo.
Penampakan landhuis dapat diperhatikan pada foto yang dibuat pada tahun 1930. Bangunan atau gedung tengah dan dua bangunan sayap terkesan sangat bagus dan mewah. Ketiga bangunan ini dan juga bangunan bagian belakang semuanya berlantai dua. Jalan yang tampak berada di depan bangunan utama adalah jalan penghubung ke arah pasar (Pasar Rebo). Jalan ini kini dikenal sebagai jalan TB Simatupang. Sedangkan jalan ini yang memotong jalan utama dari landhuis ke arah land Tjililitan yang membentuk persimpangan kini lebih dikenal sebagai persimpangan lampu merah antara jalan Condet Raya dan jalan TB Simatupang.
Tidak banyak bekas-bekas sejarah yang ditinggalkan oleh penghuni Land Tandjoeng Oost terdahulu dikarenakan tanah ini jika kita telusuri hingga jaman Hindia Belanda/VOC Adalah sebuah perkebunan dan pertanian subur di pinggir sungai Tjiliwung, namun ada beberapa peninggalan yaitu berupa sebuah Puing reruntuhan Landhuis Tandjoeng Oost atau rumah tuan tanah. Potensi inilah yang harusnya dilirik oleh dinas kebudayaan DKI Jakarta sebagai Ecomuseum dan menarik potensi pariwisata.
Tanah garapan penuh peluang ini bisa kita lihat dari dua kacamata waktu yang berbeda namun satu entitas yang sama yaitu para pelancong, pada awalnya para pelancong dari belanda melihat Land Tandjoeng Oost adalah land yang sangat baik dengan sistem irigasi yang sangat memadai. Keluarga Ament telah memiliki land Tandjoeng Oost lebih dari satu abad sejak Ament Sr hingga generasi keempat Daniel Cornelis Ament. Hal yang sama dilakukan oleh pelancong dari luar daerah ini pada zaman setelah kemerdekaan, mereka melihat tanah ini sebagai sebuah tempat untuk beristirahat setelah beradu nasib di tengah kota, menjadikannya rumah dan mereka tempat beranak-pinak.
Konsep Ecomuseum, sendiri berdasarkan pada kesamaan pandangan penghuni yang memiliki perbedaan waktu ini sama saja jika kita berbicara tentang pengelolaan lahan dan hunian di Land Tandjoeng Oost atau Pasar Rebo. Akar dan benang merah yang sama adalah kaca yang baik untuk kita melihat ke masa depan.
Pembangunan kembali Landhuis Tandjoeng Oost, diharapkan menjadi ecomuseum yang dapat menelusuri kembali sejarah bagaimana terbentuknya Land Tandjoeng oost. Sebuah tempat yang memuat informasi bagaimana semuanya bermula, bagaimana pemberian nama Pasar Rebo, apa saja yang ditanam di daerah ini dan siapa saja yang menggarap daerah ini adalah konsep dari ecomuseum yang perlu dihadirkan oleh dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Dengan mengambil beberapa persamaan yang dimiliki oleh agromuseum, kita dapat memodifikasi dan memadukan sejarah dan perkebunan maupun pertanian.
Kapan land Tandjong Oost dibuka tidak diketahui secara pasti. Informasi yang ada adalah pasar Tandjong Oost didirikan pada tahun 1762. Itu berarti keberadaan land Tandjong Oost jauh sebelum ini. Seperti disebutkan land Tjililitan sudah ada di era Cornelis Chastelein (awal 1700). Setelah itu pembukaan land baru makin lama makin jauh ke hulu sungai Tjiliwong. Pada saat Gustaaf Willem baron van Imhoff menjadi Gubernur Jenderal (1743-1750) membangun villa di hulu sungai Tjiliwong tahun 1745 tepat berada di dekat benteng (fort) Padjadjaran (kini area Istana Bogor). Untuk mendukung keberadaan villa, pengembangan pertanian Imhoff mulai meningkatkan jalan dan meningkatkan bendungan Katoelampa serta membuat kanal lebih jauh ke hilir di sisi jalan Batavia-Buitenzorg. Saat inilah terbentuk land-land baru. Itu semua bermula dari adanya jalan dan kanal. Lahan yang kurang subur menjadi lahan subur yang baru. Sisi timur sungai Tjiliwong mulai bersaing dengan sisi barat sungai Tjiliwong. Pada dekade inilah diduga kuat land Tandjong Oost terbentuk.
Keberadaan pasar Tandjong Oost menjadi strategis karena posisinya berada di tengah antara Pasar Bidara Tjina (Pasar Meester Cornelis) dengan Pasar Tjiloear (Buitenzorg). Dengan demikian di sisi timur sungai Tjiliwong (Oosternweg) sudah terdapat empat pasar, yakni: Pasar Senen di Weltevreden, Pasar Bidara Tjina di Meester Cornelis, Pasar Tjiloear di Buitenzorg dan Pasar Tandjong (Oost).
Landhuis Tandjoeng Oost, Riwayatmu Kini
Suatu penanda navigasi terpenting pada masa lampau pada suatu kawasan tanah partikelir (land) adalah keberadaan landhuis (rumah pemilik land). Saat itu wilayah administratif terkecil adalah land dimana di dalamnya terdapat kampng-kampong. Landhuis dapat dikatakan sebagai hoofdplaat (ibukota) di sudah wilayah sekitar. Land partikelir adalam lahan otonom yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan landheer (pemilik lahan). Land boleh dikatakan negara di dalam negara. Pemerintah tidak pernah mengintervensinya. Oleh karena itu, penduduk yang tinggal di suatu land harus tunduk pada kebijakan landheer. Para penduduk yang menggarap lahan atau menyewa lahan memberikan nilai sewa kepada landheer. Kemakmuran suatu land tercermin dari kondisi landhuis.
Komentar
Posting Komentar